Pembelajaran multimedia adalah pembelajaran teori kognitif
yang telah dipopulerkan oleh Richard E. Mayer dan lainnya.
Teori belajar kognitif adalah teori
pemrosesan informasi. Teori kognitif memberikan kerangka umum bagi desainer
pembelajaran dalam mengontrol kondisi belajar pada suatu lingkungan atau
material pembelajaran. Secara khusus, teori ini memberikan basis acuan empiris
yang membantu desainer pembelajaran untuk mengurangi beban kognitif selama
belajar. Dalam pembelajaran multimedia, teori belajar kognitif merupakan
landasan dari pengembangan multimedia.
Penggunaan multimedia dalam proses
pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa, meningkatkan
motivasi belajar siswa dan menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna.
Pembelajaran yang bermakna didefinisikan sebagai pemahaman yang mendalam
mengenai suatu materi, proses pengaturan mental yang dikaitkan secara masuk
akal dengan struktur kognitif dan menghubungkan pengetahuan baru dengan
pengetahuan yang sudah ada. Pembelajaran bermakna menggambarkan kemampuan
seseorang untuk menerapkan pengetahuan yang sudah diketahui pada situasi dan
kondisi yang nyata, baru dan berbeda.
Pembelajaran menggunakan multimedia
merupakan pembelajaran menggunakan media langsung yang sudah dirancang
sedemikian rupa sehingga dapat dilihat tanpa harus ke tempat kejadian.
Contohnya pembelajaran geografi tentang proses terjadinya gunung meletus, jika
kita pelajari dengan melihat langsung ke tempat kejadian akan membutuhkan
tenaga dan proses yang panjang serta membahayakan. Dengan adanya pembelajaran
menggunakan multimedia, proses terjadinya gunung meletus dapat dilihat hanya
dari dalam kelas dengan keadaan sesungguhnya tetapi sudah dirancang dengan baik
sehingga tidak mebutuhkan proses yang lama dan tidak membahayakan bagi peserta
didik. Informasi materi pembelajaran juga lebih mudah ditangkap oleh kognisi
siswa hanya lewat multimedia.
Kondisi adanya interaksi antara
multimedia dan proses kognitif selama proses pembelajaran berlangsung dikenal
dengan model teori kognitif multimedia pembelajaran yang dikembangkan oleh
Mayer, model tersebut ditampilkan pada gambar berikut :
Seperti yang terlihat pada gambar, Mayer (2004) mengemukakan
teori pembelajaran dengan berdasarkan tiga asumsi, yakni:
1. Asumsi dua
saluran, yang menyatakan bahwa manusia
menggunakan aluran pemrosesan informasi terpisah yakni untuk informasi yang
disajikan secara visual dan informasi yang disajikan secara auditif. Pemrosesan
informasi terjadi dalam tiga tahap. Pertama, informasi memasuki sistem
pemrosesan informasi baik melalui saluran visual maupun melalui saluran auditif.
Kedua, informasi-informasi ini kemudian diproses secara terpisah tetapi
bersamaan di dalam memori kerja (working memory), di mana isyarat tutur
( speech) yang bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya
video) dipilih dan ditata. Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua saluran
tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di
dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai
bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh
masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki
oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
2. Asumsi
keterbatasan kapasitas,
yang menyatakan adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam
setiap kanal pada satu waktu. Dalam satu sesi presentasi, audiens hanya bisa
menyimpan beberapa informasi visual (gambar, video, diagram, dan sebagainya)
dan beberapa informasi tutur (auditif ). Asumsi inilah yang mendasari riset
dan teori yang disebut teori beban kognitif (cognitive load theory). Meskipun
beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan
bahwa rata-rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7 ‘potongan’ informasi saja
pada satu saat.
3. Asumsi
pemprosesan aktif,
yang menyatakan bahwa manusia secara aktif melakukan pemprosesan kognitif untuk
mengkonstruksi gambaran mental dari pengalaman-pengalamannya. Manusia tidak
seperti taperecorder yang secara pasif merekam
informasi melainkan secara terus-menerus memilih, menata, dan mengintegrasikan
informasi dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hasilnya adalah
terciptanya model mental dari informasi yang tersajikan. Ada tiga proses utama
untuk pembelajaran secara aktif ini, yakni: pemilihan bahan atau materi yang
relevan, penataan materi-materi terpilih, dan pengintegrasian materi-materi
tersebut ke dalam struktur pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Proses
ini terjadi di dalam memori kerja yang terbatas kapasitasnya.
Pembelajaran
Multimedia terjadi ketika membangun perwakilan mental dari kata dan gambar.
Multimedia didefinisikan sebagai penyampaian informasi secara interaktif dan terintegrasi yang mencakup teks, gambar, suara, video atau animasi. Pada teori kognitif pembelajaran multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para desainer multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa.
Multimedia didefinisikan sebagai penyampaian informasi secara interaktif dan terintegrasi yang mencakup teks, gambar, suara, video atau animasi. Pada teori kognitif pembelajaran multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para desainer multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa.
Mayer (2003) mengemukakan bahwa ada beberapa
prinsip multimedia, yaitu:
1.
Multimedia principle, merupakan
teori yang dipelajari secara mendalam oleh Richard Mayer. Mayer mengatakan
bahwasanya prinsip ini menyatakan, gabungan kata-kata (words) dan gambar lebih kondusif digunakan untuk
pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang terdiri atas teks ataupun gambar
saja. Hasil studi menunjukkan bahwa peserta didik tidak terlibat lebih mendalam
dalam pembelajaran ketika pembelajaran tersebut hanya terdiri atas teks saja,
hal itu tidak akan menghubungkan antara apa yang mereka baca pada teks dengan
pengetahuan baru ataupun yang sudah ada sebelumnya.
2.
Contiguity principle, secara
sederhana prinsip ini diartikan sebagai mendekatkan (align)
teks dengan grafik yang sesuai. Hal ini berarti, subjek utama secara fisik
tidak boleh terpisah dari teksnya. Prinsip contiguity ini
secara tidak langsung menyatakan, bahwa tidak hanya teks yang perlu
disesuaikan, tetapi juga audio harus disesuaikan dengan grafik yang terkait.
Satu contoh adalah ketika pada sebuah grafik terdapat diagram, maka teks secara
fisik harus diletakkan di dekat bagian-bagian dari diagram.
Gambar di atas telah menggunakan prinsip contiguity, karena label-label yang menyatakan
bagian-bagian dari otak secara fisik diletakkan dekat dengan bagian otak yang
dijelaskan oleh label-label tersebut.
3. Modality principle, prinsip ini adalah lebih banyak menampilkan narasi
(perkataan) lebih baik daripada teks yang ditampilkan pada layar (on-screen text). Peserta didik akan melakukan
pembelajaran dengan lebih baik ketika informasi baru yang ada dijelaskan
menggunakan narasi audio, terlebih jika grafik yang ditampilkan sangat
kompleks, kata-kata yang dinarasikan terdengar familiar, dan pembelajaran
berjalan dengan cepat. Sangat penting untuk dicatat bahwa prinsip modality akan semakin terasa manfaatnya ketika
materi pembelajaran begitu kompleks bagi peserta didik.
4. Redudancy
principle, pada skenario pembelajaran multimedia, kita banyak melihat adanya
teks dan audio yang dijalankan secara simultan. Prinsip redudansi menyatakan
bahwasanya para peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan lebih baik
jika hanya ada animasi dan narasi. Informasi teks yang ditampilkan secara
visual menjadi materi yang redundan. Mengeliminasi materi-materi yang bersifat
redundan, menghilangkan narasi dan teks yang bersifat identik merupakan cara
yang tepat agar peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan baik.
Alasannya adalah orang-orang tidak bisa fokus jika mendengar dan melihat pesan
verbal secara bersamaan selama presentasi pembelajaran.
5. Coherence principle, salah satu kesalahan yang umum dilakukan ketika
pengembang e-learning merancang proyek atau coursea dalah
menggunakan latar belakang musik, konten dan grafik on-screen yang tidak
relevan, yang tidak ada kaitannya sama sekali. Menurut Clark dan Mayer (2011)
dalam buku: “E-learning and the Science of Instruction”, prinsip coherence dinyatakan sebagai: semua informasi yang
tidak dibutuhkan dalam penyampaian multimedia harus dieliminir seperti suara,
gambar, kata-kata karena bisa mengganggu peserta didik. Menambahkan materi yang
menarik namun tidak relevan dengan e-learning bisa membingungkan para pengguna.
6. Personalization principle, prinsip ini menggunakan gaya yang bersifat konversasional
(percakapan) dan virtual coaches. Prinsip ini melibatkan peserta didik dengan cara menyajikan
konten dengan nada percakapan dalam rangka untuk meningkatkan pembelajaran.
Clark dan Mayer (2003) juga menemukan bahwasanya penggunakan agen pedagogikal
bisa membantu peserta didik untuk fokus pada pembelajaran yang diberikan. Kita
harus menggunakan percakapan bukan tulisan formal dalam pembelajaran sehingga
peserta didik bisa berinteraksi dengan komputer seperti halnya interaksi antara
manusia dengan manusia (human-to-human conversations).
Karakter tersebut bisa bertindak sebagai partner untuk berdialog dengan mereka.
8. Pre-training principle, secara umum prinsip pre-training bermakna pengguna mengetahui nama dan karakteristik dari konsep kunci (key concept) sebelum mereka mempelajari sesuatu. Prinsip ini relevan dengan situasi ketika pengguna mencoba memproses materi esensial dalam pembelajaran namun mereka kewalahan, karena mungkin materi yang begitu kompleks. Pre-training bisa membantu pengguna, khususnya bagi para pemula, dalam hal mengurangi waktu untuk mempelajari beberapa pengetahuan dan membantu mereka untuk mengelola beberapa materi yang bersifat kompleks. Key concept diidentifikasi, kemudian dijelaskan di bagian awal pembelajaran. Pre-training bisa mempermudah pemula untuk memahami konsep dan keahlian tertentu.
Secara umum, teori kognitif mencoba untuk mengatasi masalah bagaimana menyusun praktik pembelajaran multimedia dan menggunakan strategi kognitif yang lebih efektif untuk membantu orang belajar secara efisien.
Desain multimedia pembelajaran
adalah membuat spesifikasi secara rinci mengenai arsitektur, gaya dan kebutuhan
materi untuk suatu produk media pembelajaran. Spesifikasi dibuat cukup rinci
sehingga pada tahap berikutnya, yaitu pada tahap material collecting dan
assembly tidak diperlukan keputusan baru tetapi menggunakan apa yang sudah
ditentukan pada tahap desain. Tahap desain merupakan hal yang sangat penting
sebelum melakukan proses produksi. Proses produkasi baru dilakukan apabila
desain antar muka dan seluruh aspek isi telah selesai. Desain visual merupakan
elemen penting dalam multimedia pembelajaran, beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam merancang desain visual, adalah: 1) kejelasan tampilan
visual, 2) energi yang diperlukan untuk menginterprestasikan pesan, 3)
keterlibatan keaktifan siswa dalam belajar, dan 4) fokus perhatian pada bagian
penting dari pesan.
Daftar Rujukan
Daftar Rujukan
Clarck, Ruth
C., & Mayer, Richard E. 2003.
E-learning and the Science of Instruction. San Fransisco: Jossey-Bass/Pfeiffler.
Mayer, R.E.
2004. Should thre be a three-strikes rule againts pure discovery learning? The
case for guided method of instruction. American
Phychologist. 59 (1).14-19.
Sudatha, I.
G. W & I Made Tegeh. 2015. Desain
Multimedia Pembelajaran. Singaraja: Media Akademi.


Berguna sekali
BalasHapusMakasih sudah mengunggah tulisannya.
BalasHapusditunggu tulisan berikutnya