Kamis, 06 Desember 2018


DEFINISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Berbicara mengenai pendidikan berarti kita sedang berbicara mengenai peningkatan proses belajar manusia. Berbagai cara dilakukan untuk membentuk kualitas proses belajar manusia yang baik, salah satunya melalui teknologi pendidikan. Apa itu sebenarnya teknologi pendidikan. Pengertian teknologi pendidikan tidak terlepas dari pengertian teknologi secara umum. Apabila mendengar kata teknologi, kebanyakan orang berpikir bahwa teknologi adalah berupa mesin atau alat-alat, padalahal sesungguhnya teknologi memiliki makna sebagai proses meningkatkan nilai tambah. Jika teknologi sebagai proses, maka pendidikan dapat dikatakan sebagai salah satu teknologi, karena pendidikan itu sendiri merupakan proses untuk menjadikan manusia terdidik. Dikatakan terdidik berarti manusia tersebut sudah memperoleh nilai tambah. Dan itulah maksud dari teknologi pendidikan.
Penggunaan istilah teknologi pada pendidikan memiliki keterkaitan dengan konsep produk dan proses. Konsep produk, berkaitan dengan perangkat keras atau hasil-hasil produksi. Atau dapat juga dikatakan keterpakaian berbagai peralatan dalam proses pengajaran. Pada tahapan teknologi yang sederhana, peralatan proses pengajaran dapat berupa papan tulis, bagan, objek nyata dan model-model yang sederhana. Pada tahapan teknologi menengah, keterpakaian produk pengajaran dapat berupa OHP, Slide, film, proyeksi, peralatan elektronik atau proyeksi (LCD). Sedangkan tahapan teknologi tinggi, berkenaan dengan paket-paket yang kompleks seperti belajar jarak jauh menggunakan radio, televisi, modul, computer assited instruction dan lain sebagainya. Penggunaan perangkat keras yang menggunakan teknologi tinggi dapat sejalan dengan perkembangan industri dan perkembangan masyarakat, seperti e-learning yang memanfaatkan jaringan internet untuk kegiatan pembelajaran. Kemudian, konsep proses dalam teknologi pendidikan adalah perangkat lunak. Hal ini dipusatkan pada pengembangan pengalaman belajar yang merupakan penerapan pendekatan ilmu dalam pembuatan program pembelajaran. Pengembangan pengalaman belajar ini diusahakan melalui pengembangan program pembelajaran yang sistemik dan sitematis dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Kedua kosep, yaitu konsep produk dan konsep proses tidak dapat dipisahkan. Keduanya bertujuan untuk memberi pengalaman belajar yang optimal kepada peserta didik.
Istilah teknologi pendidikan dalam bahasa Inggris sering disebut instructional technology atau educational technology. Beswick dalam Abdulhak (2013) mengatakan Instructional technology means the media born of communications revolution which can be used for instructional purpose alongside the teacher, the book and the blackboard. Jadi munurut Beswick, yang diutamakan dalam teknologi pendidikan adalah media komunikasi yang berkembang secara pesat sekali yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan. Pendapat lain, Nasution (2012:1) mengatakan bahwa teknologi pendidikan adalah pengembangan, penerapan dan penilaian sistem-sitem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar manusia. Dimana yang diutamakan adalah proses belajar itu sendiri, di samping ada alat-alat yang dapat membantu proses belajarnya.
Kemudian, Abdulhak (2013) juga mengungkapkan bahwa teknologi pendidikan merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Fungsi-fungsi teknologi pendidikan tersebut meliputi: sumber belajar, pengelolaan pendidikan dan pengembangan pendidikan. Sumber belajar ada yang dirancang khusus untuk pembelajaran (by design) dan ada yang dirancang untuk dapat dimanfaatkan sebagai keperluan pembelajaran (by utilization). Sumber belajar dapat berasal dari bahan, alat atau perlengkapan, manusia dan tempat atau lingkungan. Sementara itu, Pengelolaan pendidikan meliputi pengelolaan organisasi dan pengelolaan orang. Dan Pengembangan pendidikan terdiri atas pengembangan teori penelitian, perancangan, produksi, penilaian dan manfaat. Semua fungsi dan kawasan teknologi bertujuan agar proses pembelajaran bagi peserta didik dapat berjalan dengan baik.
Perkembangan terakhir, teknologi pendidikan secara konseptual didefinisikan sebagai teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pengelolaan, penilaian dan penelitian proses, sumber dan sistem untuk belajar. Definisi tesebut mengandung pengertian ada empat komponen dalam teknologi pendidikan yaitu : 1) teori dan praktik; 2) desain, pengembangan, pengelolaan, penilaian dan penelitian; 3) proses sumber dan sistem; dan 4) untuk belajar. Jadi, inti dari teknologi pendidikan itu sendiri adalah tujuan akhirnya yang berupa proses belajar.

Refrences
Abdulhak, Ishak. 2013. Teknologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Nasutions. 2015. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Schrum, Lynne. 2013. Teknologi Pendidikan. Jakarta: PT Indeks


PENGGUNAAN SUMBER DAYA TEKNOLOGI

1.1  Latar Belakang
Teknologi pendidikan adalah teori dan praktik untuk memfasilitasi pembelajaran dengan cara menciptakan, mengembangkan, menggunakan, mengelola, menilai dan melakukan penelitian proses teknologi dan sumber daya dengan tepat guna. Setiap definisi teknologi pendidikan tidak akan menjadi lengkap tanpa pengakuan bahwa menggunakan proses teknologi dan sumber daya yang tepat adalah tujuan akhir dari semua prosesnya. Inti dari menciptakan sumber daya teknologi dan sistem pembelajaran adalah dapat digunakan oleh peserta didik. Istilah ini juga mengacu pada penerimaan dan penggunaan proses teknologi, seperti pengembangan sistem pembelajaran. Teknologi pendidikan memenuhi kedudukannya ketika peserta didik benar-benar menggunakan bahan ajar dan sistem, dengan demikian manfaat dari analisis dan desain pembelajaran adalah menggunakannya dalam proses belajar mengajar.

1.2  Deskripsi Pengunaan dalam Teknologi Pendidikan
Dalam teknologi pendidikan penggunaan memiliki arti kata yang sama dengan pemanfaatan. Dimana pemanfaatan dalam teknologi pendidikan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Praktisi pembelajaran  yang terlibat dalam penggunaan teknologi pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk menyesuaikan karakteristik peserta didik agar dapat berinteraksi dengan bahan dan aktivitas yang dipilih, memberikan arahan selama kegiatan, memberikan penilaian atas hasil yang dicapai peserta didik serta memasukkannya ke dalam prosedur organisasi berkelanjutan. Penggunaan sumber daya teknologi menuntut adanya penggunaan, deseminasi, difusi, implementasi dan pelembagaan sistematis. Hal tersebut dihambat kebijakan dan peraturan. Fungsi penggunaan menjadi penting karena fungsi ini memperjelas hubungan peserta didik dengan bahan dan sistem pembelajaran. Keempat kategori dalam kawasan penggunaan ialah: penggunaan media, difusi inovasi, implementasi dan instutusionalisme (pelembagaan), serta kebijakan dan regulasi.

a.        Penggunaan Media
Penggunaan media merupakan kegunaan yang sistematis dari sumber untuk belajar. Proses penggunaan media merupakan proses pengambilan keputusan berdasarkan pada spesifikasi desain pembelajaran. Misalnya, bagaimana suatu video singkat diperkenalkan atau diproses dan didesain dengan bentuk belajar yang diinginkan. Prinsip-prinsip penggunaan juga dikaitkan dengan karakteristik pembelajar. Seandainya video pembelajaran memasak diciptakan secara singkat untuk peserta didik tuna rungu, berarti penggunaan video harus dibuat dengan visual semenarik mungkin tanpa harus memperhatikan audio.

b.        Difusi inovasi
Difusi inovasi adalah proses berkomunikasi melalui strategi yang terencana dengan tujuan untuk diadopsi. Tujuan akhir yang ingin dicapai ialah terjadinya perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah bagaimana caranya agar informasi mengenai pembelajaran sampai kepada peserta didik dengan mudah, misalnya jika dahulu informasi sampai kepada peserta didik hanya berasal dari guru, sekarang informasi bisa didapatkan dari mana-mana seperti dari google atau website pembelajaran online. Tahap pertama dalam proses difusi inovasi ialah membangkitkan kesadaran melalui desiminasi informasi. Proses tersebut meliputi tahap-tahap seperti kesadaran, minat, percobaan dan adopsi. Langkah-langkah difusi tersebut adalah pengetahuan, persuasi atau bujukan, keputusan, implementasi dan konfirmasi. Secara khas, proses tersebut mengikuti model proses komunikasi yang menggunakan alur multi langkah termasuk komunikasi yang menggunakan jalur penyampaian informasi, misalnya: melalui sekretaris, perantara dan pimpinan lainnya.

c.         Implementasi dan Pelembagaan
Implementasi adalah penggunaan bahan dan strategi pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya (bukan tersimulasikan). Sedangkan pelembagaan adalah penggunaan yang rutin dan pelestarian dari inovasi pembelajaran dalam suatu struktur atau budaya organisasi. Keduanya bergantung pada perubahan individu maupun organisasi. Akan tetapi, tujuan dari implementasi ialah menjamin penggunaan yang benar oleh individu dalam organisasi. Sedang tujuan dari pelembagaan ialah untuk mengintegrasikan inovasi dalam struktur dan kehidupan organisasi. Kegagalan yang silam dari projek teknologi pendidikan seperti komputer dan televisi pembelajaran di sekolah, menekankan pentingnya perencanaan baik untuk perubahan individu maupun untuk perubahan organisasi.


d.        Kebijakan dan Regulasi
Kebijakan dan regulasi adalah aturan dan tindakan dari masyarakat (atau wakilnya) yang memengaruhi difusi atau penyebaran dan penggunaan teknologi pendidikan. Kebijakan dan peraturan biasanya dihambat oleh permasalahan etika dan ekonomi. Keduanya timbul sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam maupun luar. Dampak pengaruh tersebut lebih pada pratik daripada teori. Bidang teknologi pendidikan telah ikut berjasa dalam penentuan kebijakan tentang televisi pembelajaran dan televisi masyarakat, hukum hak cipta standar peralatan dan program serta pembentukan unit administrasi yang mendukung teknologi pendidikan.

2. Kecenderungan dan Permasalahan
            Kecenderungan dan permasalahan dalam kawasan pemanfaatan umumnya berkisar pada kebijakan dan peraturan yang memengaruhi penggunaan, difusi, implementasi dan pelembagaan. Masalah lain berhubungan dengan kawasan ini ialah bagaimana gerakan restrukturisasi sekolah dapat memengaruhi pengunaan sumber pembelajaran. Peran teknologi dalam rekstrukturisasi sekolah masih berjalan. Pertumbuhan yang pesat dari bahan dan sistem yang berdasarkan komputer telah meningkatkan risiko politik dan ekonomi bagi yang akan mengadakan adopsi. Kaum profesi teknologi pendidikan sekarang sedang mempertimbangkan keputusan untuk pengeluaran jutaan dolar yang akan berpengaruh bukan saja terhadap guru secara perorangan dan ruang kelas, tetapi terhadap seluruh wilayah pesekolahan, perguruan tinggi dan badan usaha. Bidang ini tampaknya semakin terlibat pada permasalahan politik dan ekonomi tingkat organisasi secara keseluruhan. Faktor ini sering berdampak pada cara bagaimana harus dilakukan.

3. Sumber Pengaruh Utama
Pada mulanya gagasan tentang pemanfaatan media lebih berkonotasi pada spek-aspek penggunaan, kemudian kawasan ini berkembang dan mencakup pada difusi dan pemanfaatan pengetahuan; termasuk pula peranan kebijakan publik sebagai suatu mekanisme pelembagaan. Di luar bidang teknologi pendidikan, studi tentang pemanfaatan ilmu pengetahuan dan banyak dipengaruhi oleh hasil penelitian dan teori yang berkaitan dengan sejarah dan filsafat ilmu dan sosiologi ilmu pengetahuan. Prinsip yang sama ini telah melahirkan asumsi-asumsi penting bagi para teknolog pembelajaran.
Asusmsi yang tumbuh adalah bahwa penggunaan media terbatasi oleh: (1) kerangka referensi masing-masing individu, (2) kondisi sosial, (3) permasalahan tentang keseluruhan sistem penerimaan, (4) tindakan dari kelompok-kelompok yang berkomunikasi.
Permanfaatan teknologi bergantung pada proses difusi. Dalam kaitan ini, memberikan kontribusi yang sangat penting untuk memahami gejala difusi inovasi. Hasil dari penelitian tentang proses difusi adalah suatu model yang banyak didasarkan pada hasil penelitian tentang adopsi inovasi. Secara umum penelitian ini telah mengidentifikasi variabel-variabel yang diduga banyak memengaruhi penerimaan ide-ide baru dan menjelaskan bagaimana proses penerimaan inovasi baru tersebut terjadi. Model Rogers ini didasarkan pada anggapan bahwa ada empat elemen utama yang beroperasi dalam proses difusi, yaitu bentuk atau karakter inovasi itu sendiri, salura komunikasi yang ada, waktu dan sistem yang berlaku.
Contoh tentang faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan proses dan materi pembelajaran termasuk; sikap pembelajar terhadap teknologi; tingkat independensi pembelajar, dan faktor-faktor lain yang dapat menghambat atau mendukung pemanfaatan media atau materi dalam konteks sistem pembelajaran yang lebih luas. Penelitian penggunaan teknologi pendidikan banyak menyinggung masalah-masalah seperti penggunaan media secara optimal dan pengaruh media terhadap waktu yang diperlukan untuk belajar.

1.3  Kesimpulan
Penggunaan sumber daya teknologi dalam pendidikan telah lama dimanfaatkan untuk membantu peningkatan kualitas pembelajaran. Pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran terutama teknologi komputer memudahkan para pendidik untuk menjelaskan materi pembelajaran yang bersifat abstrak dan jauh dari penalaran peserta didik menjadi mudah dijangkau atau dipahami.
Sumber daya teknologi yang digunakan dalam proses pembelajaran harus mengalami difusi dan implementasi dengan memperhatikan kebijakan dan regulasi yang ada. Difusi sumber daya teknologi harus memperhatikan inovasi teknologi yang sedang berkembang saat ini. Setelah difusi sudah dilakukan, tahap penggunaan sumber daya harus melalui proses implementasi, dimana sumber daya teknologi diujicobakan kepada peserta didik dan apabila hal tersebut memberikan efek positif bagi peserta didik berarti sumber daya teknologi sudah berhasil dikembangkan. Penggunaan teknologi dalam pendidikan juga harus memperhatikan kebijakan yang telah ditetapkan, misalnya penayangan film tertentu dapat disesuaikan dengan usia agar pembelajaran yang didapat tepat pada sasarannya.
Melalui teknologi pendidikan, para pendidik akan mudah melakukan simulasi pembelajaran mendekati kondisi nyata dari suatu materi pembelajaran yang abstrak. Penggunaan sumber daya teknologi dalam semakin kuat pengaruhnya seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang telah merambah kehidupan masyarakat. Pembelajaran menggunakan sumber daya teknologi sering disebut dengan e-learning yang merupakan proses pembelajaran melalui penggunaan teknologi atau internet pada khususnya atau pembelajaran berbasis komputer.

Daftar Pustaka
Januszewski, Alan dan Molenda, Michael. 2008. Educational Technology with Commentary. India: Indiana University.
Darmawan, Deni. 2013. Teknologi Pembelajaran. Bandung: Rosda Karya.
Abdulhak, Ishak. 2013. Teknologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.
Prawiradilaga, Dewi Salma. 2012. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Nasution. 2015. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.



Selasa, 20 November 2018



ALTERNATIF PEMANFAATAN TIK YANG EFEKTIF UNTUK MENUNJANG DUNIA KERJA



1.        Pemanfaatan TIK dalam Dunia Pendidikan

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang sangat pesat, sejak lama telah dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Pemanfaatan TIK di sekolah akan menjadi suatu hal yang biasa di sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan secara formal. Pemanfaatan TIK untuk diterapkan dalam dunia pendidikan dapat dikategorikan dalam lima kelompok. Kelompok yang pertama adalah pemanfaatan TIK digunakan untuk menyampaikan materi ajar. Pada pemanfatan jenis ini, informasi materi belajar yang hendak disampaikan kepada peserta ajar dikemas dalam suatu perangkat lunak. Perserta ajar kemudian dapat belajar dengan cara menjalankan program atau perangkat lunak tersebut di komputer. Bila dirancang dengan baik, pemanfaatan TIK dapat menciptakan sebuah program sehingga peserta dapat melakukan simulasi atau juga dapat memberikan umpan balik kepada peserta ajar untuk kemajuan belajarnya. Pemakaian kelompok kedua adalah pemanfaatan TIK untuk pendistribusian materi ajar melalui jaringan internet. Materi ajar dapat dikemas dalam bentuk webpage ataupun program belajar interaktif. Materi ajar ini kemudian ditempatkan dalam server yang tersambung ke internet sehingga dapat diambil oleh peserta didik baik menggunakan web-browser ataupun aplikasi pengiriman file. Pemanfaatan kelompok ketiga adalah penggunan TIK sebagai media komunikasi dengan pakar, narasumber atau peserta didik. Komunikasi ini dapat digunakan untuk menanyakan hal-hal yang tidak bisa dimengerti atau mengemukakan pendapatsupaya dapat ditanggapi oleh peserta yang lain. Dengan demikian, peserta didik bisa mendapat umpan balik dari para pakar atau narasumber serta serta dari teman peserta didik yang lain mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pemahaman materi ajar. Pemanfaatan TIK kelompok empat dalam dunia pendidikan adalah digunakannya TIK sebagai jembatan menuju realitas pembelajaran. Perkembangan TIK mampu mengolah, mengemas dan menampilkan serta menyebarkan informasi pembelajaran baik dalam media audiovisual, visual, audiovisual bahkan multimedia, yang saat ini dikenal dengan pembelajaran bersifat virtual atau e-learning. Pembelajaran model ini mampu mengemas kondisi atau relitas pembelajaran sebelumnya menjadi lebih menarik dan memberikan pengkondisian bahwa pembelajaran tidak dibatasi oleh ruang dan jarak. Dalam dunia pendidikan, pemanfaatan TIK kelompok lima yaitu digunakannya TIK untuk memberi layanan informasi yang lebih baik. Pemanfaatan TIK jenis ini sudah banyak digunakan oleh perguruan tinggi seperi adanya sistem electronic university (e-university), sistem akademik informasi akademik (SIAKAD) online, akses informasi perpustakaan online (e-library) dan lain-lain.

2.        Pemanfaatan TIK dalam  Pemerintahan
Penggunaan TIK dapat meningkatkan hubungan antara pemerintah dengan pihak-pihak lain disebut e-government. Penggunaan hubungan ini dapat dibedakan menjadi 3 bentuk, yaitu: G2C (Government to citizen), yaitu hubungan antara pemerintah dengan masyarakat; G2B (Government to bussines), yaitu hubungan antara pemerintah dengan pengusaha dan G2G (Government to Government), yaitu hubungan antara pemerintah dengan pemerintah. Konsep e-government mengacu pada penggunaan TIK oleh pemerintahan, misalnya dengan menggunakan jaringan internet. E-government dapat meningkatkan hubungan antara pemerintah dengan penduduk, pemerintah dengan bisnis, dan kegiatan lainnya. Selain itu TIK juga bermanfaat dalam bidang pemerintahan antara lain: 1) meningkatkan hubungan antara pemerintah dengan dunia usaha dan masyarakat, kerena informasi dapat lebih mudah untuk diperoleh; 2) meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat pemerintah dengan adanya transparansi kegiatan pemerintah; 3) meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat, yaitu masyarakat dapat dilayani kapan-pun dan dimana-pun, tanpa memandang jam buka kantor, dan bahkan tanpa perlu datang ke kantor pemerintahan; 4) tersedianya informasi yang mudah diakses oleh masyarakat melalui internet, sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan dengan benar; dan 5) hilangnya birokrasi yang selama ini seolah-oleh menjadi penghalang bagi masyarakat dalam berhubungan dengan pemerintah, sehingga pelaksanaan pemerintahan menjadi lebih efektif dan efisien.

3.        Pemanfaatan TIK dalam Dunia Perbankan
Dalam dunia perbankan, TIK diterapkan untuk transaksi perbankan lewat internet atau dikenal dengan Internet Banking. Beberapa transaksi yang dapat dilakukan melalui Internet Banking antara lain transfer uang, pengecekan saldo, pemindah bukuan, pembayaran tagihan, dan informasi rekening. Di kota-kota besar, kita dapat memastikan kebanyakan orang telah mempunyai rekening di bank. Rekening yang bisa berupa tabungan, rekening koran, giro, ataupun deposito. Tapi melakukan transaksi di kantor bank terkadang memakan waktu cukup lama terutama harus antri menunggu giliran. Tidak jarang karena kesal dan tidak sabar menunggu dilayani sehingga memanfaatkan cara lain yaitu seperti menggunakan ATM (anjungan tunai mandiri) bank yang tersebar di beberapa tempat. Namun terkadang seseorang bisa bertambah kesal karena di depan ATM ternyata terdapat barisan orang yang mengantri pula. Memanfaatkan internet sebagai salah satu jalur transaksi perbankan yang lebih mudah diakses dimanapun seperti di rumah atau kantor dan juga kapanpun selama 24 jam satu minggu penuh. Internet banking yang juga dikenal dengan istilah online banking ini menurut situs wikipedia adalah melakukan transaksi, pembayaran, dan transaksi lainnya melalui internet dengan website milik bank yang dilengkapi sistem keamanan. Bagi sebagian orang, internet banking sangat membantu karena bisa melakukan transaksi perbankan di luar jam kerja bank yang sering pendek. Hanya membutuhkan koneksi internet dan web browser seperti Internet Explorer. Sama sekali tidak memerlukan perangkat lunak atau perangkat keras secara khusus. Jumlah konsumen perbankan yang memilih internet banking sebagai cara yang paling disukai untuk menangani keuangannya dewasa ini berkembang dengan sangat cepat. Hal ini disebabkan mereka menyukai berbagai kemudahan dan fitur yang tersedia dalam internet banking. Internet banking biasanya menyediakan fitur pembayaran berbagai rekening baik listrik, telepon, kartu kredit dan sebagainya secara online. Selain itu, setiap saat para konsumen bisa memeriksa dan mengunduh daftar transaksi keuangan mereka atau jumlah simpanan secara online.

4.        Pemanfaatan TIK dalam Bidang Transportasi
Penggunaan TIK di bidang transportasi digunakan untuk mengatur lampu lalu lintas. Di Negara maju lainnya banyak kereta yang sudah dipasang alat navigasi modern untuk menggantikan masinis melalui penggunaan satelit dan sistem komputer. Jalan raya juga dipasang dengan berbagai jenis sensor yang akan memberikan pesan kepada komputer pusat untuk memudahkan pengendalian jalan raya tertentu. Selain itu, dengan TIK semua jalur penerbangan di Bandara bisa diprogram. Untuk menerbangkan pesawat itu sendiri membutuhkan dan harus dilengkapi dengan alat TIK. Bahkan diketinggian tertentu pesawat dapat diterbangkan dengan otomatis oleh pilot yang sudah diprogram melalui komputer. Demikian juga penjualan tiket di terminal , bandara, dan stasiun yang dapat dilayani dengan cepat menggunakan TIK. Banyak negara maju lainnya yang sudah memasang alat navigasi modern untuk menggantikan masinis melalui penggunaan satelit dan sistem komputer di kereta. Salah satu negara yang sudah memasang alat navigasi modern untuk menggantikan masinis melalui penggunaan satelit dan sistem TIK di kereta adalah negara Jepang.

5.        Pemanfaatan TIK dalam Bidang Kesehatan

Pelayanan kesehatan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), banyak mendapatkan perhatian Dunia. Contohnya yang pertama yaitu dalam pelayanan yang disebut dengan sistem e-Health. Pengertian e-Health sendiri secara luas dapat bermakna bidang pengetahuan baru yang merupakan persilangan dari informasi medis, kesehatan public, dan usaha, berkaitan dengan jasa pelayanan dan informasi kesehatan yang dipertukarkan atau ditingkatkan melalui saluran internet dan teknologi berkaitan dengannya. Dalam pengertian lebih luas, e-Health dapat diartikan sebagai tidak hanya pengembangan teknologi pelayanan kesehatan, namun juga mencakup pengembangan sikap, perilaku, komitmen dan tata cara berpikir untuk mengembangkan pelayanan kesehatan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Mengembangkan layanan e-Health akan membantu pihak-pihak penyedia layanan kesehatan termasuk pemerintah untuk mencapai hal tersebut di atas. E-Health akan memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk melakukan kolaborasi, pengumpulan dan analisa data kesehatan yang melampaui batasan fisik dan waktu. Sebagai contoh, e-Health dapat diterapkan untuk membantu pemerintah mengembangkan program yang membantu dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya saling bertukar infomasi secara elektronik, mengambil data rekam medis pasien kapan dan dimana diperlukan, dan melakukan kolaborasi dengan memberi layanan jasa kesehatan lainnya secara real time melalui internet. Layanan kesehatan seperti ini akan memberikan banyak sekali penghematan dari sisi biaya dokumen dan administrasi layanan dan memberikan keuntungan pemberian keputusan layanan kesehatan yang terbaik kepada pasien dengan lebih cepat. Pemanfaatan TIK dalam dunia kesehatan yang kedua digunakan untuk mendiagnosa suatu penyakit. TIK dapat digunakan untuk menghasilkan foto yang lebih baik dari tubuh pasien. Sinar-X adalah teknik tradisional yang merekam bayangan dua dimensi dari tulang pada film. Computerized Axial Tomography, juga dikenal sebagai CAT scan, adalah serangkaian gambar sinar-X dua dimensi yang digabungkan dengan TIK untuk mendapatkan gambar tiga dimensi. Dengan adanya komputer DNA yang sudah dirancang khusus di dalam bidang kesehatan mendiagnosa suatu penyakit bukan hal yang sulit lagi, karena dengan menggunakan komputer akan lebih cepat, mudah dan akurat untuk mengetahui nama dan jenis suatu penyakit. Ketiga, Pemanfaatan TIK digunakan untuk memonitoring status pasien, pasien yang sudah pernah datang atau baru pertama kali berobat akan dengan mudah dilacak. Data – data personal pasien juga dengan mudah dilihat. Selain itu, dokter ataupun perawat dapat melihat rekaman hasil periksa, keluhan dan riwayat penyakit sebelumnya yang pernah diderita oleh si pasien, tanggal kedatangan pasien terakhir kali berobat, record resep yang pernah diberikan, dan masih banyak lagi. Pemanfaatan keempat TIK dalam dunia kesehatan adalah untuk melakukan penelitian. Penelitian ilmiah yang sering dilakukan dalam bidang kesehatan sangatlah bergantung pada penggunaan TIK. Penggunaan TIK dapat memaksimalkan hasil penelitian, karena dengan adanya TIK penelitian itu dapat ditelusuri lebih dalam dan lebih detail. Misalnya penelitian untuk mendeteksi bakteri atau virus baru, pendeteksian DNA, dan lain sebagainya. Pemanfataan TIK yang kelima dalam bidang kesehatan adalah unutk melihat dan menganalisa organ-organ tubuh bagian dalam manusia Untuk dapat melihat organ tubuh bagian dalam manusia telah ditemukan begitu banyak alat canggih, namun hampir seluruh alat tersebut masih bergantung pada perangkat TIK sebagai sarana untuk penyaluran data ataupun gambarnya. Oleh karenanya, TIK memiliki peranan yang vital juga dalam melihat dan menganalisa organ – organ tubuh manusia tersebut.

6.    Pemanfaatan TIK dalam Dunia Farmasi
TIK juga berperan sangat penting dalam farmasi, misalnya untuk merecord resep dan dosis, serta menyimpan data harga obat – obatan tersebut. Selain itu, dengan adanya komputer dalam bidang farmasi juga membantu untuk mengelompokkan macam-macam obat berdasarkan kegunaannya, misalnya Panadol, Feminax, Ponstan adalah obat penahan rasa sakit.

7.        Pemanfaatan TIK dalam Dunia Perdagangan
Penggunaan TIK dapat mempermudah diri sendiri dan orang lain dalam transaksi jual dan beli yang disebut dengan dunia perdagangan. Contohnya , sebuah layanan online yang disebut toko online. Kita dapat membeli yang kita butuhkan disana tanpa harus mengantri, dan yang pasti dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Adanya pemanfaatan TIK menjadikan modal dan biaya-biaya lainnya menjadi minim. Kalau mau berdagang pasti membutuhkan modal. Tidak hanya modal fisik dan mental, melainkan juga modal materi. Tetapi bila kita berdagang secara online, atau bahasa orang awamnya berdagang di internet, semua itu dapat menjadi sekecil mungkin tapi dapat menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari modal kita dan biaya operasional. Karena dalam berjualan online tidak perlu memiliki yang namanya toko dan karyawan. Dalam mempromosikan, pemanfaatan TIK dibagian ini menjadi sangat tepat/efektif. Menjalankan atau berdagang secara online dengan mudah mendapatkan target-target pasar/pemasaran, dengan menggunakan konten/artikel yang sedang HOT topik. Jadi dengan adanya informasi yang ada di blok atau situs, kita bisa memaparkan/ memetakan pasaran yg mana akan dituju. Intinya tidak perlu lagi dan tidak ada beban dalam hal berpromosi seperti sales yang harus bertemu dengan calon pembeli. Pemanfaatan TIK juga digunakan sebagai target untuk pemasaran dalam berdagang yang luas. Dengan menggunakan media yang namanya internet yang dapat di akses oleh seluruh orang di dunia maka media internet sangat memungkinkan untuk mendapatkan target penjualan yang besar dan luas. Jadi apapun itu produk/jasa yang di jual secara online dapat dan dipromosikan secara elektronik melaui internet. Dengan adanya TIK dalam dunia perdgangan dapat mempermudah pendataan barang/produk kita. Tidak hanya dalam pendataan barang yang terjual, melainkan pendataan seperti, barang yang masuk, pendataan customer, pendataan barang bulanan, dan masih banyak lagi. Dalam hal ini kita tidak perlu repot dalam yang namanya pembukuan secara manual, karena dapat banyak memakan waktu yang kita butuhkan untuk hal lain. Adanya pemanfaatan TIK membuat transaksi pembayaran yang mempermudahkan pembeli. Jika pelanggan ingin berbelanja online dan sudah memilih barang yang akan dibeli, maka pelanggan dapat membayarnya secara online biasanya itu disebut internet banking. Kemudian, pemanfaatn TIK dalam dunia perdanganan mempermudah dalam pengaturan di bidang perdagangan suatu barang. Maksudnya, penjual dapat mengatur apa yang harus dirubah dalam penyampaian dan pengelolaan suatu informasi dari produknya. Misalnya penjual tidak ingin menjual suatu produk ke daerah tertentu dan harus menarik produk tersebut dari daerah itu. Dengan TIK penjual cukup menghapus atau mengatur di web atau data yang dimiliki tanpa harus terjun ke daerah tersebut secara langsung.

8.    Pemanfaatan TIK dalam Industri dan Manufaktur
Dalam bidang industri, TIK digunakan pada proses perencanaan sebuah produk baru melalui program desain, seperti Computer Aided Design (CAD). Gunanya, agar produk yang diinginkan dapat dirancang secara cepat,  mudah, dan memiliki ketepatan tinggi.  Sebagai contoh,  untuk menggambar bentuk desain mobil dibutuhkan waktu yang lama dan relatif sulit apabila dilakukan secara manual.  Akan tetapi, dengan program CAD (misalnya, AutoCad) semua itu dapat teratasi. Bahkan, program ini dapat menggambarkan bentuk nyata sebuah desain mobil dilihat dari berbagai sudut (3 dimensi). Pada tahap produksi,  digunakan  robot yang dikendalikan oleh komputer dengan program Computer Numerical Control (CNC)  dan  Computer Aided Manufacture (CAM). Bahkan, ujicoba ketahanan kendaraan dapat dilakukan dan disimulasikan dengan komputer. Dari beberapa penjelasan mengenai alternative pemanfaatan TIK dalam menunjang dunia kerja, dapat disimpulkan bahwa  peran  TIK dalam bidang industri dan manufaktur sangat besar, di antaranya adalah sebagai alat bantu untuk merancang produk baru secara cepat, mudah, dan tepat (akurat) dan sebagai proses produksi yang dapat  dilakukan dengan sesedikit  mungkin tenaga manusia sehingga mengurangi resiko fisik yang dapat dialami oleh manusia.

Ada banyak sekali alternatif pemanfaatan TIK yang efektif lainnya yang digunakan untuk menunjang dunia kerja. Hal ini sangat membantu kebutuhan hidup manusia dalam era globalisasi yang tidak terlepas dari dunia TIK itu sendiri.

Daftar Rujukan

Darmawan, Deni. 2013. Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Teori 
          dan Aplikasi. Bandung: PT Rosda Karya.
Darmawan, Deni. 2015. Teknologi Pembelajaran. Bandung: PT Rosda Karya
Khusnah, Asmaul. 2015. Pemanfaatan TIK dalam Berbagai Bidang. [Online].
berbagai-bidang/, diakses tanggal 21 November 2018).








Senin, 12 November 2018



STUDI KASUS LATAR BELAKANG PENGGUNAAN TIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN (PENJASKES)
oleh Arie Dwi Debrata

Pembelajaran adalah serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Pembelajaran akan berfokus pada pengembangan kemampuan intelektual yang berlangsung secara social dan kultural, mendorong siswa membangun pemahaman dan pengetahuannya sendiri dalam konteks social, dan belajar dimulai dari pengetahuan awal dan perspektif budaya. Seperti yang diketahui, penjaskes adalah pembelajaran dasar bagi siswa yang bertujuan untuk membantu perkembangan kognitif, fisik, mental, emosi, social dan lainnya. Dalam pembelajaran penjaskes diperlukan prinsip-prinsip karakter agar siswa selalu sportif selama proses pembelajaran berlangsung. Sementara itu pembelajaran di era globalisasi seperti sekarang, sudah saatnya pembelajaran penjaskes menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk proses belajar mengajar. Pendidikan jasmani dan kesehatan (Penjaskes) merupakan pendidikan yang melibatkan aktivitas jasmani/gerak dalam pembelajaran sehingga penggunaan TIK sebagai media dalam pembelajaran dapat membantu guru untuk lebih mudah menyampaikan materi pembelajaran yang berhubungan dengan gerak. Penggunaan TIK dalam pembelajaran pendidikan jasmani bisa berupa slide presentation, CD-Interaktif, video tutorial, film bertemakan olahraga, multimedia, jaringan dan lain-lain. 
Sementara itu, berdasarkan penelitian yang terjadi di lapangan saat ini di SMP Negeri 1 Kuala Tungkal, penggunaan TIK dalam pembelajaran Penjaskes selalu terkendala oleh pemadaman listrik yang jadwalnya tidak menentu. Oleh karena itu, penuntunan penggunaan TIK dalam pembelajaran juga harus disertai dengan adanya buku tes pendamping semacam lembar kerja siswa, sehingga saat pemadaman listrik berlangsung siswa tetap bisa mengikuti pembelajaran dengan menguji kemampuan bersama lembar kerja yang sudah disediakan. Pembelajaran berbasis TIK dapat membuat siswa secara aktif mengikuti pembelajaran walaupun guru yang sedang mengajar berhalangan untuk hadir. Banyaknya aplikasi pengembangan materi ajar berbasis TIK yang dapat membantu guru-guru dalam mengembangkan kreatifitas mereka dalam mengelola bahan ajar. Penggunaan TIK dalam pembelajaran tidak hanya menuntut siswa untuk aktif mecari materi ajar sendiri,  tetapi guru pun harus aktif memadukan materi ajar yang akan disampaikan agar pengetahuan yang dimiliki oleh guru tidak ketinggalan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Pembelajaran berbasis TIK mengubah paradigma lama dari pembelajaran terpusat pada guru (teacher-centered) menjadi pembelajaran berpusat pada siswa (students-centered). Pada tingkatan paling tinggi, penggunaan TIK dalam pembelajaran digambarkan sebagai proses pembelajaran yang telah menyatu dengan kemajuan TIK. Pada kondisi ini, siswa melaksanakan pembelajaran secara mandiri dan online yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Guru dalam tingkatan ini berperan hanya sebagai fasilitator, oleh karena itulah muncul paradigma baru pembelajaran berpusat pada siswa (students-centered).

Daftar Rujukan
Abdullah, Ishak. 2013. Teknologi Pendidikan. Bandung: PT Rosda Karya.
Darmawan, Deni. 2013. Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Teori dan Aplikasi.
Bandung: PT Rosda Karya.
Darmawan, Deni. 2015. Teknologi Pembelajaran. Bandung: PT Rosda Karya.


Rabu, 07 November 2018


PRINSIP-PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN TIK UNTUK MENUNJANG KEBUTUHAN DUNIA KERJA
Oleh Arie Dwi Debrata

Saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sangat dirasakan kebutuhannya dalam segala aspek kehidupan. Sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memberikan jangkauan yang luas, cepat, efektif dan efisien terhadap penyebarluasan informasi ke berbagai penjuru dunia. Perkembangan dan pemanfaatan TIK juga dirasakan dalam menunjang kebutuhan dunia kerja. Ada beberapa prinsip dasar pengembangan TIK yang perlu diperhatikan untuk penerapannya di dunia kerja:
  1. Pengembangan TIK menjadikan pekerjaan lebih efektif.
Peluang lapangan pekerjaan yang semakin luas ditandai dengan demand atau permintaan akan calon pekerja yang kompeten dari para perusahaan. Dengan peran TIK yang lebih luas tentu hasilnya lebih efektif serta tepat guna menjangkau para kandidat baru sehingga para penyedia lapangan pekerjaan lebih mudah menyeleksi yang terbaik untuk diangkat sebagai karyawan. Para pencari kerja juga semakin mudah dalam menentukan jenjang karir karena terbukanya lapangan pekerjaan yang lebih luas akan semakin efektif bagi kedua belah pihak. Sekarang ini banyak perusahaan dan instansi pemerintahan yang menyeleksi calon pegawai mereka menggunakan sistem Computer Asissed Technology (CAT). Penggunaan sistem CAT ini dinilai lebih efektif karena tidak membutuhkan banyak tenaga, bersifat lebih transfaran dan tidak ada rekayasa.
Di perusahaan-perusahaan besar, pengembangan TIK dapat digunakan sebagai pengontrol kerja karyawan. Contohnya saja adanya presensi online, hal ini mempermudah para menejer untuk mengetahui kehadiran karyawan walaupun mereka sedang tidak berada di kantor. Pengembangan TIK seperti adanya Closed Cicuit Television (CCTV) dan pintu ditektor yang bisa dipantau melalui internet mempermudah swalayan besar mengetahui alur barang yang masuk dan keluar, apakah sudah sesuai atau tidak sesuai dengan prosedur yang ditentukan. Di beberapa Universitas, pengembangan TIK sudah dilakukan untuk akses perpustakaan, akses ke pakar, perkuliahan secara online, menyediakan layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan dan lain-lain yang membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan tepat guna. Penerapan TIK dalam dunia bisnis biasanya sering disebut e-commerce, yaitu aplikasi yang dapat mempermudah transaksi-transaksi bisnis suatu perusahaan atau perorangan. Dalam dunia perbankan, pengembagan TIK dilakukan melalui transaksi perbankan lewat internet atau dikenal dengan Internet Banking. Beberapa transaksi yang dapat dilakukan melalui Internet Banking antara lain transfer uang, pengecekan saldo, pemindahbukuan, pembayaran tagihan, dan informasi rekening. Internet Banking bernilai efektif karena mempermudah pelayanan perbankan kapan saja dan di mana saja. Pengembangan TIK dalam dunia pendidikan diperuntukkan bagi peningkatan kinerja lembaga pendidikan dalam upayanya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Hal ini membantu guru dan pengajar lainnya agar tidak lagi disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan operasional, yang sesungguhnya dapat digantikan oleh komputer.
  1. Pengembangan TIK membuat pekerjaan menjadi lebih efisien.
Efisien yang dimaksud disini bisa diartikan dengan hematnya waktu yang digunakan bagi para perusahaan atau instansi pemerintahan dalam mencari pekerja baru. Mereka dapat mencari para pekerja yang sesuai spefikasi standar perusahaan atau instansi pemerintahan sehingga demand atau permintaan akan sumber daya manusia dari beberapa divisi setiap perusahaan atau instansi tersebut dapat terpenuhi sesuai target waktu yang ditentukan. Dari segi biaya tentu saja tentunya adanya pengembangan TIK membuat kantong lebih hemat. Hal itu karena perusahaan atau instansi pemerintahan yang ingin membuka lowongan pekerjaan cukup mempromosikan lowongan pekerjaan mereka melalui media media online yang jauh lebih terjangkau dan bisa sampai ke seluruh pelosok negara tanpa membutuhkan biaya dan waktu yang banyak. Bagi para pencari lapangan pekerjaan tentu juga dirasa lebih efisien karena dapat mengirimkan puluhan surat lamaran pekerjaan dalam sehari hanya dengan kehebatan surat elektronik atau email bila dibandingkan dengan mengirimnya lewat cara lama dan konvensional. Hanya dengan sentuhan jari, para pekerja memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan jenjang karir serta perekonomian mereka dengan memanfaatkan kehebatan dan media TIK.
Pengembangan TIK dalam dunia kerja dimanfaatkan oleh pebisnis online untuk menjual produk mereka. Dengan bermodal aplikasi belanja online seperti shoppee atau tokopedia, berbisnis hanya dari rumah tanpa memerlukan tempat dan bisa menghasilkan uang. Di Indonesia saat ini, gojek juga merupakan salah satu aplikasi untuk dunia kerja yang memanfaatkan pengembangan TIK. Dahulu kala, bagi seseorang yang tidak mempunyai kendaraan akan sulit baginya untuk pergi kemana-mana, harus menunggu angkutan umum dan hal itu membuat waktu terbuang sia-sia. Sekarang ini, adanya aplikasi gojek mempermudah seseorang yang tidak memiliki kendaraan untuk bisa pergi kemana-mana dengan hemat dan praktis. Banyak orang yang mendaftar diri mereka menjadi driver gojek untuk mencari penghasilan tambahan dan mengisi waktu luang. Dalam aplikasi gojek juga tersedia pesan antar makanan yang disebut go food. Apabila pelanggan ingin makan tetapi malas keluar rumah, cukup pesan melalui go food dan tak lama kemudian pelanggan dapat menikmati makanan tersebut hanya dengan menunggu di rumah.
  1. Pengembangan TIK menjadikan pekerjaan lebih ramah lingkungan.
Ramah lingkungan adalah dampak positif dengan adanya peran aktif pengembangan TIK dalam dunia kerja. Adanya kemudahan dengan memanfaatkan TIK membuat sumber daya alam pun ikut kena efek baiknya. Apabila kita lihat dalam kehidupan kita, semua alat yang dipakai untuk melakukan pekerjaan terbuat dari sumber daya alam yang ada. Contohnya kertas berasal dari serat kayu, serat kayu berasal dari pohon yang ada di hutan-hutan. Semakin banyak kertas yang digunakan maka semakin banyak pohon yang ditebang untuk mendapatkan serat kayu dan menyebabkan hutan tersebut menjadi tandus. Hutan yang tandus menyebabkan terjadinya polusi udara, banjir bahkan tanah longsor. Pekerjaan dengan menggunakan TIK meminimaliskan penggunaan kertas. Kertas yang biasanya dipakai sebagai bukti surat-surat dalam dunia kerja dapat diganti dengan surat elektronik melalui email atau website. Analogi lain, apabila seorang pekerja ingin mencari pekerjaan baru tak perlu repot lagi untuk mencetak atau menggandakan berkas lamaran dalam bentuk print out atau hard copy karena hal itu akan menghabiskan berpuluh bahkan ratusan kertas untuk dikirim kepada alamat tujuan sebuah perusahaan atau instansi yang tengah membuka lowongan pekerjaan. Pengembangan TIK di era globalisasi ini, hanya dengan mengunggah beberapa file surat dalam lampiran email dapat diartikan bahwa kita telah menyelamatkan bumi dari kepunahan.
  1. Pengembangan TIK dalam dunia kerja dapat memperluas jaringan.
Media TIK menciptakan aplikasi-aplikasi yang membuat aktivitas pekerjaan menjadi lebih mudah. Aplikasi tersebut dirancang agar komunikasi antar perusahaan atau instansi pemerintahan tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Konsep ini lah yang memberi pengertian bahwa TIK dapat memperluas jaringan sampai ke seluruh pelosok dunia. Jaringan yang lebih luas dapat menjangkau sasaran para praktisi di dunia kerja agar lebih mudah mencapai tujuannya. Perusahaan-perusahaan besar saat ini bisa memiliki pelanggan dimana-mana dengan memanfaatkan pengembangan TIK. Contohnya saja seperti perusahaan Instagram atau Facebook. Walaupun servernya berada pada negara asal pembuatannya tetapi aplikasi tersebut sudah dipakai oleh jutaan umat di seluruh dunia untuk menambah informasi tentang seluruh aspek kehidupan.

Kemajuan yang telah dicapai manusia dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan sesuatu yang patut diapresiasi karena dengan kemajuan tersebut akan memudahkan manusia dalam mengerjakan pekerjaan dan tugas yang harus dikerjakannya. Kemajuan TIK yang cepat dapat mempermudah komunikasi antara suatu tempat dan tempat yang lain. Semakin maraknya penggunaan TIK akan semakin membuka lapangan pekerjaan. Pengembangan TIK diterapkan dalam beberapa perusahaan atau instansi pemerintahan, dunia bisnis, sektor perbankan, dan lain-lain. TIK merupakan suatu proses perkembangan teknik, metode dan media komunikasi untuk bertukar informasi antar manusia. Selain itu, melalui TIK, informasi dapat lebih cepat terdokumentasikan dan mempunyai jangkauan sebar yang lebih luas. Pengembangan TIK diyakini memberikan manfaat bagi pemakaian dalam hal ini perusahaan dan meluas ke segala aspek aktivitas termasuk aktivitas yang berhubungan dengan manajerial seperti proses perencanaan, pengendalian informasi dan bahkan memasukkan teknologi ke dalam isu-isu yang berhubungan dengan manajemen. Penggunaan TIK ini memberikan manfaat kualitatif maupun kuantitatif. Manfaat kuantitatif terdiri dari pengurangan biaya operasi dan perbaikan produk dan jasa yang ditawarkan. Sedangkan manfaat kualitatif berupa analisis data lebih cepat, penyajian laporan manajemen lebih baik, beberapa pekerjaan dapat dilakukan individu yang sama, penghematan waktu, akses data tepat waktu, data yang disajikan lebih akurat, dan perbaikan dalam pengambilan keputusan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan TIK dalam menunjang kebutuhan dunia kerja dapat membantu pekerjaan atau usaha yang diinginkan. Sekarang ini, kemampuan dalam pengembangan TIK sudah menjadi hal yang sangat penting, apalagi perusahaan atau instansi pemerintahan sangat membutuhkan orang yang mempunyai kompetensi di bidangnya tetapi mempunyai keahlian terhadap penggunaan TIK dalam aktivitas pekerjaan.

Daftar Rujukan:
Abdullah, Ishak. 2013. Teknologi Pendidikan. Bandung: PT Rosda Karya.
Darmawan, Deni. 2013. Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Teori dan Aplikasi. Bandung: PT Rosda Karya.
Darmawan, Deni. 2015. Teknologi Pembelajaran. Bandung: PT Rosda Karya.
Utomo, Hendra. 2012. Peran TIK dalam Dunia Kerja. [Online]. (https://www.kartunet.com/peran-tik-dalam-dunia-kerja-284/, diakses tanggal 8 November 2018).




Kamis, 25 Oktober 2018

TEORI KOGNITIF MULTIMEDIA PEMBELAJARAN


TEORI KOGNITIF MULTIMEDIA PEMBELAJARAN

Pembelajaran multimedia adalah pembelajaran teori kognitif yang telah dipopulerkan oleh Richard E. Mayer dan lainnya.
Teori belajar kognitif adalah teori pemrosesan informasi. Teori kognitif memberikan kerangka umum bagi desainer pembelajaran dalam mengontrol kondisi belajar pada suatu lingkungan atau material pembelajaran. Secara khusus, teori ini memberikan basis acuan empiris yang membantu desainer pembelajaran untuk mengurangi beban kognitif selama belajar. Dalam pembelajaran multimedia, teori belajar kognitif merupakan landasan dari pengembangan multimedia.
Penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa dan menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna. Pembelajaran yang bermakna didefinisikan sebagai pemahaman yang mendalam mengenai suatu materi, proses pengaturan mental yang dikaitkan secara masuk akal dengan struktur kognitif dan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Pembelajaran bermakna menggambarkan kemampuan seseorang untuk menerapkan pengetahuan yang sudah diketahui pada situasi dan kondisi yang nyata, baru dan berbeda.
Pembelajaran menggunakan multimedia merupakan pembelajaran menggunakan media langsung yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dilihat tanpa harus ke tempat kejadian. Contohnya pembelajaran geografi tentang proses terjadinya gunung meletus, jika kita pelajari dengan melihat langsung ke tempat kejadian akan membutuhkan tenaga dan proses yang panjang serta membahayakan. Dengan adanya pembelajaran menggunakan multimedia, proses terjadinya gunung meletus dapat dilihat hanya dari dalam kelas dengan keadaan sesungguhnya tetapi sudah dirancang dengan baik sehingga tidak mebutuhkan proses yang lama dan tidak membahayakan bagi peserta didik. Informasi materi pembelajaran juga lebih mudah ditangkap oleh kognisi siswa hanya lewat multimedia.
Kondisi adanya interaksi antara multimedia dan proses kognitif selama proses pembelajaran berlangsung dikenal dengan model teori kognitif multimedia pembelajaran yang dikembangkan oleh Mayer, model tersebut ditampilkan pada gambar berikut :
Seperti yang terlihat pada gambar, Mayer (2004) mengemukakan  teori  pembelajaran dengan berdasarkan tiga asumsi, yakni: 
1.  Asumsi dua saluran, yang menyatakan bahwa manusia menggunakan aluran pemrosesan informasi terpisah yakni untuk informasi yang disajikan secara visual dan informasi yang disajikan secara auditif. Pemrosesan informasi terjadi dalam tiga tahap. Pertama, informasi memasuki sistem pemrosesan informasi baik melalui saluran visual maupun melalui saluran auditif. Kedua, informasi-informasi ini kemudian diproses secara terpisah tetapi bersamaan di dalam memori kerja (working memory), di mana isyarat tutur ( speech) yang bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya video) dipilih dan ditata. Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua saluran tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
2.     Asumsi keterbatasan kapasitas, yang menyatakan adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam setiap kanal pada satu waktu. Dalam satu sesi presentasi, audiens hanya bisa menyimpan beberapa informasi visual (gambar, video, diagram, dan sebagainya) dan beberapa informasi tutur (auditif ). Asumsi inilah yang mendasari riset dan teori yang disebut teori beban kognitif (cognitive load theory). Meskipun  beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata-rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7 ‘potongan’ informasi saja pada satu saat.
3.  Asumsi pemprosesan aktif, yang menyatakan bahwa manusia secara aktif melakukan pemprosesan kognitif untuk mengkonstruksi gambaran mental dari pengalaman-pengalamannya. Manusia tidak seperti taperecorder  yang secara  pasif merekam informasi melainkan secara terus-menerus memilih, menata, dan mengintegrasikan informasi dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hasilnya adalah terciptanya model mental dari informasi yang tersajikan. Ada tiga proses utama untuk pembelajaran secara aktif ini, yakni: pemilihan bahan atau materi yang relevan, penataan materi-materi terpilih, dan pengintegrasian materi-materi tersebut ke dalam struktur pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Proses ini terjadi di dalam memori kerja yang terbatas kapasitasnya.

Pembelajaran Multimedia terjadi ketika membangun perwakilan mental dari kata dan gambar.
   Multimedia didefinisikan sebagai penyampaian informasi secara interaktif dan terintegrasi yang mencakup teks, gambar, suara, video atau animasi. Pada teori kognitif pembelajaran multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para desainer multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa.
Mayer (2003) mengemukakan bahwa ada beberapa prinsip multimedia, yaitu:
1.      Multimedia principle, merupakan teori yang dipelajari secara mendalam oleh Richard Mayer. Mayer mengatakan bahwasanya prinsip ini menyatakan, gabungan kata-kata (words) dan gambar lebih kondusif digunakan untuk pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang terdiri atas teks ataupun gambar saja. Hasil studi menunjukkan bahwa peserta didik tidak terlibat lebih mendalam dalam pembelajaran ketika pembelajaran tersebut hanya terdiri atas teks saja, hal itu tidak akan menghubungkan antara apa yang mereka baca pada teks dengan pengetahuan baru ataupun yang sudah ada sebelumnya.
2.      Contiguity principle, secara sederhana prinsip ini diartikan sebagai mendekatkan (align) teks dengan grafik yang sesuai. Hal ini berarti, subjek utama secara fisik tidak boleh terpisah dari teksnya. Prinsip contiguity ini secara tidak langsung menyatakan, bahwa tidak hanya teks yang perlu disesuaikan, tetapi juga audio harus disesuaikan dengan grafik yang terkait. Satu contoh adalah ketika pada sebuah grafik terdapat diagram, maka teks secara fisik harus diletakkan di dekat bagian-bagian dari diagram.

Gambar di atas telah menggunakan prinsip contiguity, karena label-label yang menyatakan bagian-bagian dari otak secara fisik diletakkan dekat dengan bagian otak yang dijelaskan oleh label-label tersebut.
3.    Modality principle, prinsip ini adalah lebih banyak menampilkan narasi (perkataan) lebih baik daripada teks yang ditampilkan pada layar (on-screen text). Peserta didik akan melakukan pembelajaran dengan lebih baik ketika informasi baru yang ada dijelaskan menggunakan narasi audio, terlebih jika grafik yang ditampilkan sangat kompleks, kata-kata yang dinarasikan terdengar familiar, dan pembelajaran berjalan dengan cepat. Sangat penting untuk dicatat bahwa prinsip modality akan semakin terasa manfaatnya ketika materi pembelajaran begitu kompleks bagi peserta didik.
4.   Redudancy principle, pada skenario pembelajaran multimedia, kita banyak melihat adanya teks dan audio yang dijalankan secara simultan. Prinsip redudansi menyatakan bahwasanya para peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan lebih baik jika hanya ada animasi dan narasi. Informasi teks yang ditampilkan secara visual menjadi materi yang redundan. Mengeliminasi materi-materi yang bersifat redundan, menghilangkan narasi dan teks yang bersifat identik merupakan cara yang tepat agar peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan baik. Alasannya adalah orang-orang tidak bisa fokus jika mendengar dan melihat pesan verbal secara bersamaan selama presentasi pembelajaran.
5.  Coherence principle, salah satu kesalahan yang umum dilakukan ketika pengembang e-learning merancang proyek atau coursea dalah menggunakan latar belakang musik, konten dan grafik on-screen yang tidak relevan, yang tidak ada kaitannya sama sekali. Menurut Clark dan Mayer (2011) dalam buku: “E-learning and the Science of Instruction”, prinsip coherence dinyatakan sebagai: semua informasi yang tidak dibutuhkan dalam penyampaian multimedia harus dieliminir seperti suara, gambar, kata-kata karena bisa mengganggu peserta didik. Menambahkan materi yang menarik namun tidak relevan dengan e-learning bisa membingungkan para pengguna.
6.  Personalization principle, prinsip ini menggunakan gaya yang bersifat konversasional (percakapan) dan virtual coaches. Prinsip ini melibatkan peserta didik dengan cara menyajikan konten dengan nada percakapan dalam rangka untuk meningkatkan pembelajaran. Clark dan Mayer (2003) juga menemukan bahwasanya penggunakan agen pedagogikal bisa membantu peserta didik untuk fokus pada pembelajaran yang diberikan. Kita harus menggunakan percakapan bukan tulisan formal dalam pembelajaran sehingga peserta didik bisa berinteraksi dengan komputer seperti halnya interaksi antara manusia dengan manusia (human-to-human conversations). Karakter tersebut bisa bertindak sebagai partner untuk berdialog dengan mereka.
7. Segmenting principle, segmentasi merupakan prinsip yang sangat sederhana, dimana kita hanya membagi segmen yang lebih luas menjadi segmen-segmen yang lebih kecil. Cara yang umum digunakan pada materi yang disegmentasi ini adalah dengan cara memainkan tombol “Continue” pada masing-masing frame pada setiap slide. Hal ini bisa bermanfaat untuk, pertama: bisa membantu peserta didik untuk berpindah dari satu slide ke slide lainnya sesuai dengan seleranya masing-masing dan kedua mereka bisa mencerna informasi yang ada sesuai dengan kecepatan (berpindah dari satu slide ke slide lainnya) untuk bekerja dengan lebih baik. Menurut Clark dan Mayer (2011), rasional dari menggunakan segmentasi adalah bisa memberikan manfaat kepada peserta didik untuk mencerna informasi tanpa harus meng-overload sistem kognitif.
8. Pre-training principle, secara umum prinsip pre-training bermakna pengguna mengetahui nama dan karakteristik dari konsep kunci (key concept) sebelum mereka mempelajari sesuatu. Prinsip ini relevan dengan situasi ketika pengguna mencoba memproses materi esensial dalam pembelajaran namun mereka kewalahan, karena mungkin materi yang begitu kompleks. Pre-training bisa membantu pengguna, khususnya bagi para pemula, dalam hal mengurangi waktu untuk mempelajari beberapa pengetahuan dan membantu mereka untuk mengelola beberapa materi yang bersifat kompleks. Key concept diidentifikasi, kemudian dijelaskan di bagian awal pembelajaran. Pre-training bisa mempermudah pemula untuk memahami konsep dan keahlian tertentu.

     Secara umum, teori kognitif mencoba untuk mengatasi masalah bagaimana menyusun praktik pembelajaran multimedia dan menggunakan strategi kognitif yang lebih efektif untuk membantu orang belajar secara efisien.
 Teori belajar kognitif mengungkapkan bagaimana kita memperoleh pengetahuan, bagaimana pengetahuan tesebut disimpan dan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan. Teori kognitif banyak memusatkan perhatian pada konsepsi bahwa perolehan dan retensi pengetahuan baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang dimiliki siswa. Cara menyusun praktik pembelajaran multimedia dan menggunakan strategi kognitif yang lebih efektif untuk membantu orang belajar secara efisien adalah dengan memperhatikan prinsip-prinsip multimedia saat merancang multimedia pembelajaran. Implikasi dari prinsip-prinsip di atas terhadap media pembelajaran berbasis komputer adalah 1) pengembangan media pembelajaran berbasis komputer disesuaikan dengan proses internal, yaitu menarik perhatian siswa, menginformasikan kepada siswa tujuan pembelajara, pengaktifan kembali pengetahuan awal, menyajikan stimulus dengan cara berbeda, mengarahkan belajar, memperoleh kinerja yang diharapkan, memberi umpan balik yang informatif, menilai kinerja, meningkatkan daya ingat dan transfer belajar; 2) individualisasi; 3) membuat media pembelajaran berbasis komputer interaktif; 4) menggunakan umpan balik secara efektif; 5) menjamin keberhasilan; 6) kesesuaian antara tujuan, pembelajaran dan penilaian; 7) memungkinkan kontrol pembelajaran oleh siswa; 8) menghitung, mengawasi dan mengevaluasi pertimbangan yang efektif; 9) melakukan evaluasi berdasarkan tujuan, sikap dan kecukupan program; 10) mendesain layar dengan cermat; 11) menggunakan media tambahan dengan tepat.
Desain multimedia pembelajaran adalah membuat spesifikasi secara rinci mengenai arsitektur, gaya dan kebutuhan materi untuk suatu produk media pembelajaran. Spesifikasi dibuat cukup rinci sehingga pada tahap berikutnya, yaitu pada tahap material collecting dan assembly tidak diperlukan keputusan baru tetapi menggunakan apa yang sudah ditentukan pada tahap desain. Tahap desain merupakan hal yang sangat penting sebelum melakukan proses produksi. Proses produkasi baru dilakukan apabila desain antar muka dan seluruh aspek isi telah selesai. Desain visual merupakan elemen penting dalam multimedia pembelajaran, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merancang desain visual, adalah: 1) kejelasan tampilan visual, 2) energi yang diperlukan untuk menginterprestasikan pesan, 3) keterlibatan keaktifan siswa dalam belajar, dan 4) fokus perhatian pada bagian penting dari pesan.

Daftar Rujukan
Clarck, Ruth C., & Mayer, Richard E. 2003. E-learning and the Science of Instruction. San Fransisco: Jossey-Bass/Pfeiffler.
Mayer, R.E. 2004. Should thre be a three-strikes rule againts pure discovery learning? The case for guided method of instruction. American Phychologist. 59 (1).14-19.

Sudatha, I. G. W & I Made Tegeh. 2015. Desain Multimedia Pembelajaran. Singaraja: Media Akademi.